Banten kembali menunjukkan dirinya sebagai salah satu motor ekonomi di Pulau Jawa. Di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, provinsi ini berhasil mencatat pertumbuhan yang patut diapresiasi. Sepanjang tahun 2025, ekonomi Banten tumbuh sebesar 5,37 persen. Angka ini bukan hanya lebih tinggi dibandingkan capaian tahun 2024 yang berada di level 4,79 persen, tetapi juga melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,11 persen. (Badan Pusat Statistik Provinsi Banten)
Capaian tersebut menegaskan bahwa Banten bukan sekadar daerah penyangga Jakarta. Ia telah berkembang menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi penting di Indonesia. Dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang mencapai Rp936,2 triliun, Banten kini menjadi salah satu kontributor utama perekonomian nasional, terutama di kawasan barat Pulau Jawa. PDRB per kapitanya pun telah menyentuh Rp74,67 juta per tahun, sebuah angka yang menunjukkan kapasitas ekonomi masyarakat yang terus meningkat. (Badan Pusat Statistik Provinsi Banten)
Kinerja ini tentu bukan terjadi secara kebetulan. Struktur ekonomi Banten ditopang oleh sektor-sektor yang relatif kuat dan beragam. Industri pengolahan masih menjadi tulang punggung utama, menyumbang lebih dari 30 persen terhadap total PDRB. Ini wajar, mengingat Banten merupakan salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia, dengan konsentrasi manufaktur yang tersebar di Tangerang, Cilegon, dan Serang. Selain industri, sektor perdagangan, konstruksi, serta transportasi dan pergudangan juga menunjukkan performa yang solid. (Badan Pusat Statistik Provinsi Banten)
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Banten terutama didorong oleh konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari separuh aktivitas ekonomi daerah. Investasi juga memainkan peran penting, tercermin dari kuatnya pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Sementara itu, kinerja ekspor yang positif menambah daya dorong tersendiri, menunjukkan bahwa Banten masih memiliki daya saing yang kuat di pasar internasional. (Badan Pusat Statistik Provinsi Banten)
Namun, di balik angka-angka yang menggembirakan itu, ada pertanyaan yang lebih penting: apakah pertumbuhan ini sudah dirasakan secara merata?
Inilah tantangan klasik yang masih dihadapi Banten. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum tentu otomatis berarti pemerataan kesejahteraan. Sebagian besar aktivitas ekonomi masih terkonsentrasi di wilayah utara dan perkotaan, terutama Tangerang Raya, Cilegon, dan Serang. Sementara itu, wilayah selatan seperti Lebak dan Pandeglang masih menghadapi tantangan dalam hal infrastruktur, investasi, dan akses terhadap peluang ekonomi.
Kesenjangan antarwilayah ini menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa diabaikan. Sebab, ekonomi yang sehat bukan hanya ekonomi yang tumbuh cepat, tetapi juga ekonomi yang tumbuh inklusif. Pertumbuhan harus mampu menciptakan lapangan kerja yang berkualitas, mengurangi ketimpangan, dan membuka peluang yang lebih luas bagi seluruh masyarakat, bukan hanya bagi kawasan yang sudah maju.
Selain itu, Banten juga perlu mulai memikirkan transformasi ekonomi jangka panjang. Ketergantungan yang besar pada sektor industri manufaktur memang menjadi kekuatan, tetapi juga menyimpan risiko. Perubahan teknologi, otomatisasi, dan dinamika perdagangan global dapat sewaktu-waktu memengaruhi daya tahan sektor ini. Karena itu, diversifikasi ekonomi menjadi kebutuhan mendesak.
Pengembangan sektor ekonomi kreatif, pariwisata, pertanian modern, hingga ekonomi digital dapat menjadi sumber pertumbuhan baru di masa depan. Potensi ini sangat besar, terutama jika didukung oleh infrastruktur yang semakin membaik dan kualitas sumber daya manusia yang terus meningkat.
Banten saat ini berada di persimpangan penting. Ia telah berhasil tumbuh lebih cepat, tetapi tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa pertumbuhan tersebut juga berkualitas. Pertumbuhan yang tidak hanya besar dalam angka, tetapi juga luas dalam manfaat.
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan ekonomi bukan sekadar seberapa tinggi persentasenya, melainkan seberapa banyak masyarakat yang benar-benar merasakan dampaknya.
Banten telah melaju kencang. Kini, yang dibutuhkan adalah memastikan bahwa seluruh wilayah dan seluruh lapisan masyarakat dapat ikut melaju bersama.
