SERANG – Keselamatan pejalan kaki di sepanjang Jalan Banten, khususnya ruas Lopang hingga Unyur, kini menjadi sorotan warga. Meningkatnya volume kendaraan di jalur penghubung strategis tersebut tidak dibarengi dengan penyediaan fasilitas trotoar yang memadai, sehingga memaksa warga bertaruh nyawa di bahu jalan.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, aktivitas ekonomi dan mobilitas warga di kawasan tersebut sangat tinggi. Namun, ketiadaan pembatas fisik antara arus lalu lintas dan jalur pejalan kaki membuat warga, termasuk anak-anak sekolah dan lansia, harus berjalan ekstra hati-hati di sisi aspal yang sempit.
Dede Gufron dan Nikmatullah RT RW Lingkungan setempat, menyatakan bahwa usulan pembangunan trotoar sebenarnya sudah sering disampaikan dalam forum musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang), namun hingga kini belum ada realisasi nyata dari pemerintah daerah.
“Jalan ini sudah dilebarkan, tapi hanya untuk kendaraan. Hak pejalan kaki seolah terlupakan. Kami meminta pemerintah segera mengalokasikan anggaran untuk pedestrian sebelum ada jatuh korban jiwa akibat kecelakaan di titik ini,” tegasnya saat diwawancarai, Minggu (1/2).
Ketiadaan trotoar di ruas Lopang-Unyur berdampak pada beberapa aspek krusial:
Rawan Laka Lantas: Minimnya jarak aman antara kendaraan bermotor dengan pejalan kaki.
Hambatan Arus Lalu Lintas: Pejalan kaki yang terpaksa masuk ke badan jalan menyebabkan perlambatan arus kendaraan pada jam sibuk.
Disfungsi Drainase: Banyak saluran air yang tertutup bangunan liar atau sedimen karena tidak adanya struktur trotoar yang terintegrasi dengan sistem drainase modern.
Data Teknis Kebutuhan Jalur Pedestrian
| Ruas Jalan | Perkiraan Panjang | Status Fasilitas Saat Ini |
| Lopang – Unyur | ± 1.5 Kilometer | Tanpa Trotoar / Tanpa pengaman |
| Intensitas Kendaraan | Tinggi (Pagi & Sore) | Didominasi Roda 2 dan Mobil pribadi |
| Fasilitas Pendukung | Minim PJU | Drainase Terbuka/Tidak Berfungsi |
Warga mendesak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Serang dan Provinsi Banten untuk segera meninjau lokasi dan melakukan kajian teknis. Selain fungsi keamanan, keberadaan trotoar juga diyakini dapat menata estetika kota agar tidak terkesan semrawut dan kumuh.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Dinas PUPR belum memberikan keterangan resmi terkait rencana pembangunan infrastruktur pedestrian di wilayah tersebut. Warga berharap, perbaikan infrastruktur tidak hanya berfokus pada pusat kota (protokol), tetapi juga menjangkau wilayah penyangga yang padat penduduk.(RS)
