LEBAK – Kondisi infrastruktur di kawasan hunian sementara (Huntara) korban banjir bandang di Kampung Cigobang, Desa Banjarsari, Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak, Banten, menuai keluhan warga. Pasalnya, lokasi huntara tersebut berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang memiliki kondisi jalan sangat berbeda.
Perbedaan itu terlihat mencolok pada akses jalan di kawasan perbatasan. Jalan di wilayah Kabupaten Bogor tampak mulus dengan lapisan aspal hitam, sementara di wilayah Kabupaten Lebak, jalan masih berupa tanah merah yang licin dan becek, terutama saat musim hujan.
Salah seorang warga Huntara, Muhamad Zaenudin, mengatakan kondisi tersebut menjadi bukti nyata ketimpangan pembangunan infrastruktur antarwilayah yang sama-sama berada di Indonesia.
“Perbedaan ini jelas terlihat. Jalan di Kabupaten Bogor begitu mulus, sementara di Kabupaten Lebak masih tanah merah. Ini menunjukkan bahwa slogan RUHAY itu hanya sebatas slogan, karena ketidakbecusan pemerintah terlihat nyata di lapangan,” kata Zaenudin saat dihubungi, Minggu (11/1/2026).
Zaenudin menilai Pemerintah Kabupaten Lebak tidak memiliki kepekaan terhadap kondisi warganya, terutama korban banjir bandang yang hingga kini masih bertahan di hunian sementara.
“Mereka seolah tidak punya rasa malu kepada rakyat. Di Bogor, pemerintah bisa membangun jalan sampai ke pelosok perbatasan. Sementara di Lebak, jalan di kawasan huntara dibiarkan rusak dan becek,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Bogor yang telah membangun akses jalan tersebut. Menurutnya, jalan beraspal itu sangat membantu aktivitas warga Huntara, terutama dalam kondisi darurat.
“Kami sangat merasakan manfaatnya. Kalau ada warga sakit atau ibu yang hendak melahirkan saat hujan, kami bisa melewati jalur ke arah Kota Bogor karena jalannya bagus,” ungkapnya.
Ia pun mempertanyakan keadilan pembangunan antarwilayah. Menurutnya, warga Kabupaten Lebak dan Kabupaten Bogor sama-sama merupakan warga negara Indonesia yang seharusnya mendapatkan pelayanan dan pembangunan yang setara.
“Kami ini sama-sama warga negara Indonesia. Kenapa di Bogor jalannya bagus, sementara di Lebak masih hancur?” katanya.
Selain persoalan jalan, Zaenudin juga mengungkapkan kekecewaan warga Huntara terhadap janji pemerintah terkait pembangunan hunian tetap (Huntap) yang hingga kini belum terealisasi. Warga mengaku lelah menunggu kepastian, sementara harus bertahan di hunian sementara dengan kondisi yang semakin memprihatinkan.
“Warga berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat benar-benar memberikan perhatian serius, baik terkait pembangunan infrastruktur maupun pemenuhan hak dasar masyarakat, agar tidak terjadi ketimpangan hanya karena perbedaan wilayah administrasi,” pungkasnya.****
